简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Analisis Laporan ISM Purchasing Managers’ Index (PMI)
Ikhtisar:Pekan ini pasar memasuki periode rilis data ekonomi makro utama. Pada tanggal 5 kemarin, ISM merilis laporan PMI Manufaktur bulan Desember, yang tercatat di 47,9, turun 0,3 poin dibandingkan bulan seb
Pekan ini pasar memasuki periode rilis data ekonomi makro utama. Pada tanggal 5 kemarin, ISM merilis laporan PMI Manufaktur bulan Desember, yang tercatat di 47,9, turun 0,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi level terendah sejak Oktober 2024. Angka ini menegaskan bahwa sektor manufaktur AS masih berada dalam fase kontraksi.
Seiring dengan rilis data tersebut, indeks dolar AS sempat menguat sebelum berbalik melemah, sehingga mendorong harga emas untuk menantang level psikologis 4.450. Pada sesi Asia hari ini, harga emas bergerak berfluktuasi di sekitar level tersebut.

(Grafik 1: PMI Manufaktur ISM | Sumber: ISM Report)
Menelaah lebih dalam laporan ISM PMI, para responden menyoroti bahwa kebijakan tarif terus memberikan tekanan terhadap harga jual akhir.
Industri komputer dan produk elektronik menyebutkan bahwa meskipun ketegangan tarif menunjukkan tanda-tanda mereda, harga seluruh produk masih berada pada level tinggi. Kenaikan biaya memaksa perusahaan menaikkan harga jual untuk menutup lonjakan biaya. Namun, margin laba tetap tertekan, karena kenaikan biaya tidak sepenuhnya dapat dialihkan kepada konsumen.
Industri kimia menyatakan bahwa penurunan belanja konsumsi riil pada akhirnya tidak terlepas dari dampak tarif. Responden berharap perdagangan bebas dapat kembali berjalan normal, sejalan dengan preferensi konsumen yang tercermin melalui keputusan belanja mereka.
(Grafik 2: Pesanan Baru ISM & Persediaan Pelanggan | Sumber: M Square)
Selain dua sektor tersebut yang menunjukkan lemahnya penjualan akhir dan penurunan margin, sektor manufaktur lainnya juga melaporkan penurunan pesanan, tingkat utilisasi kapasitas yang rendah, serta langkah pengurangan tenaga kerja untuk menyesuaikan efisiensi.
Baik sektor manufaktur AS maupun konsumen secara umum saat ini menghadapi tekanan dari suku bunga tinggi, tarif perdagangan, dan penurunan belanja konsumsi, yang menyebabkan lingkungan investasi berada dalam kondisi stagnan. Namun bagi investor, selain mengamati persepsi ekonomi konsumen, pertanyaan kunci yang perlu dijawab adalah: seberapa buruk kondisi ini bisa memburuk?
Berdasarkan analisis data, kami menilai bahwa sektor manufaktur AS memang menghadapi angin sakal ekonomi, namun perilaku aktual perusahaan saat ini cenderung terlalu konservatif. Dalam prospek ke depan, terdapat potensi penambahan pesanan.
Indikasi pesimisme berlebihan terlihat dari data: pesanan baru Desember naik 0,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya, sementara persediaan turun tajam dari 48,9 menjadi 45,2, atau turun 3,7 poin. Pada sisi persediaan pelanggan, indeks turun dari 44,7 menjadi 43,3. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pesanan baru meningkat secara moderat, laju pengurasan persediaan sangat cepat, yang menjadi faktor utama PMI ISM mencatat level terendah sejak Oktober 2024.
Ketika perusahaan secara luas menilai bahwa persediaan pelanggan berada pada level yang terlalu rendah, biasanya hal ini menandakan potensi masuknya fase restocking, yang melibatkan peningkatan perekrutan dan investasi, sehingga mendukung pemulihan siklus manufaktur AS. Oleh karena itu, indikator pesanan baru dikurangi persediaan pelanggan menjadi acuan yang lebih relevan dalam memberikan panduan prospektif terhadap siklus ekonomi ke depan.

Keengganan perusahaan untuk menimbun persediaan saat ini didasari oleh kondisi suku bunga tinggi dan lemahnya permintaan akhir. Namun ke depan, potensi katalis positif dapat datang dari kebijakan pemotongan pajak pemerintahan Trump serta harga minyak yang rendah, yang berpotensi meningkatkan pendapatan disposabel. Ketika sentimen perusahaan beralih dari pesimistis ke optimistis, restocking diperkirakan akan terjadi dengan cepat dan agresif.
Tingginya valuasi aset berisiko saat ini tidak hanya didorong oleh belanja modal besar-besaran dari lima raksasa CSP AS, tetapi juga oleh ekspektasi Wall Street bahwa pemotongan pajak dapat mendorong penjualan akhir naik secara struktural.
Kondisi di mana perusahaan bersikap pesimistis saat ini namun menghadapi risiko kehilangan peluang di masa depan akibat lonjakan pesanan mendadak, merupakan pola yang serupa dengan fase transisi yang terjadi pada akhir 2022 hingga 2023.
Peringatan Risiko
Pandangan, analisis, riset, harga, maupun informasi lainnya di atas disajikan semata-mata sebagai komentar pasar umum dan tidak mencerminkan posisi resmi platform ini. Seluruh risiko ditanggung oleh masing-masing pembaca. Harap bertransaksi dengan penuh kehati-hatian.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
