简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Dolar AS Stabil Pasca Risalah The Fed, Aussie Tertekan Data Ketenagakerjaan
Ikhtisar:Dolar AS bergerak stabil menyusul rilis risalah rapat bank sentral Amerika Serikat yang bernada sedikit hawkish, sementara Dolar Australia melemah akibat memburuknya data ketenagakerjaan. Di saat yang sama, sentimen pasar global secara merata mengalami perbaikan seiring dengan turunnya harga minyak mentah di tengah harapan penyelesaian konflik di Timur Tengah.

Dolar AS bergerak stabil dan bertahan di rentang level tertinggi enam pekannya menyusul rilis risalah rapat terbaru Federal Reserve. Sejumlah pejabat bank sentral mengisyaratkan pandangan yang terbuka untuk kembali menerapkan kenaikan suku bunga acuan, apabila laju inflasi terus bertahan tinggi di atas target dua persen mereka.
Sikap kehati-hatian yang cenderung hawkish atau ketat ini turut dipengaruhi oleh lonjakan inflasi dalam dua bulan terakhir, yang utamanya dipicu oleh tekanan harga energi akibat gangguan terusan pasokan global secara geopolitik.
Di sisi lain, pergerakan Dolar Australia tertekan merosot secara tajam setelah data ketenagakerjaan domestik untuk bulan April menunjukkan pelemahan di luar dugaan. Laporan tersebut mencatat lonjakan tingkat pengangguran Australia hingga menyentuh level 4,5 persen, yang merupakan titik tertingginya sejak September tahun sebelumnya.
Pertanda mendinginnya sektor ketenagakerjaan ini memperkuat ekspektasi para pelaku pasar bahwa bank sentral Australia akan terus menunda pemangkasan dan menahan suku bunga acuan dalam beberapa waktu ke depan.
Di belahan pasar Asia lainnya, Yen Jepang mencatatkan performa pergerakan yang cenderung stabil, ditopang oleh rilis data neraca perdagangan terbaru yang membukukan surplus kuat melampaui perkiraan.
Hal ini juga didukung oleh dorongan pertumbuhan industri melalui kuatnya angka ekspor pada sektor semikonduktor dan kelengkapan elektronik. Namun sebaliknya, Rupee India kembali menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan dan membukukan rekor pelemahan baru secara beruntun terhadap nilai tukar Dolar AS.
Meskipun nilai tukar mata uang dipenuhi oleh arah perubahan tren suku bunga, selera risiko pasar secara meluas terpantau membaik dengan indikator pergerakan bursa ekuitas yang beralih positif.
Peningkatan minat pasar ini sejalan dengan turunnya harga minyak mentah di tengah munculnya sejumlah negosiasi serta harapan akan kesepakatan damai terkait konflik di teritori Timur Tengah, yang sekiranya dapat mengembalikan kestabilan fungsi jalur distribusi perdagangan logistik komoditas di wilayah perairan tersebut.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
