简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Mata Uang Asia Tertekan Dolar AS, Risiko Intervensi Yen Kembali Mencuat
Ikhtisar:Mayoritas mata uang Asia bergerak tipis karena pasar menakar dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan rencana tarif baru Amerika Serikat. Sementara itu, yen Jepang mendapat sorotan utama karena kembali melemah mendekati level krusial 160 per dolar AS yang memicu peringatan intervensi baru dari otoritas setempat.

Pasar mata uang Asia sebagian besar bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan hari Rabu karena para pelaku pasar mempertimbangkan kembali eskalasi ketegangan di Timur Tengah serta rencana proposal tarif impor baru dari Amerika Serikat.
Dolar AS tetap terjaga pasca laporan pembukaan lapangan kerja bulan April yang secara tak terduga meningkat, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Fokus utama pasar kini tertuju pada yen Jepang yang diperdagangkan di sekitar level 159,9 per dolar AS, sangat mendekati ambang batas krusial 160 yang sempat memicu intervensi mata uang pada bulan April lalu.
Menteri Keuangan Jepang, Katsunobu Kato, telah mengeluarkan peringatan baru bahwa otoritas sedang memantau dengan cermat pergerakan nilai tukar dan siap merespons volatilitas yang berlebihan.
Tekanan bertubi bagi yen juga ditimbulkan oleh lonjakan harga minyak global akibat ketidakpastian geopolitik, yang semakin membebani Jepang sebagai negara pengimpor energi.
Di kawasan lain, pergerakan mata uang Pasifik menunjukkan pelemahan, di mana dolar Australia sedikit tertekan setelah rilis data pertumbuhan ekonomi dalam negerinya ditutup melambat.
Perekonomian Australia terpantau berekspansi 2,5% secara tahunan pada kuartal pertama, lebih rendah dari perkiraan awal sebesar 2,7%. Sementara itu, mayoritas won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yuan China juga mencatatkan pelemahan minim terhadap dolar AS selagi investor beralih menantikan rilis laporan ketenagakerjaan utama Amerika Serikat, termasuk data Non-Farm Payrolls, sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.

