简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Kebijakan Tarif Baru AS Segera Diumumkan, Konflik Timur Tengah Terus Memanas
Ikhtisar:Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, mengisyaratkan bahwa pemerintah AS akan segera mengumumkan kebijakan tarif baru sebagai pengganti tarif impor global sebesar 10% yang akan segera ber
Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, mengisyaratkan bahwa pemerintah AS akan segera mengumumkan kebijakan tarif baru sebagai pengganti tarif impor global sebesar 10% yang akan segera berakhir. Pada saat yang sama, pada 20 Juli, AS juga memperkenalkan kebijakan baru berdasarkan Section 232 Trade Expansion Act of 1962, yang memberikan keringanan tarif impor aluminium bagi perusahaan yang berinvestasi dalam produksi aluminium primer di dalam negeri, dengan tarif diturunkan dari 50% menjadi sekitar 25% guna mengatasi keterbatasan kapasitas produksi domestik. Sebelumnya, tarif baja dan aluminium sebesar 50% dinilai kurang efektif karena AS masih sangat bergantung pada impor, sementara tingginya harga aluminium telah meningkatkan biaya produksi sektor manufaktur.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Donald Trump dan kedua belah pihak sepakat untuk mempercepat proses negosiasi dalam beberapa pekan ke depan. Namun, Perdana Menteri Provinsi Ontario menegaskan bahwa larangan terhadap impor anggur dan minuman beralkohol asal AS tidak akan dicabut sebelum Washington menghapus tarif sektoral atas industri otomotif dan baja. Para ekonom menilai kombinasi inflasi inti yang melemah dan potensi kenaikan tarif baru dapat membuka peluang bagi Bank of Canada untuk kembali menurunkan suku bunga.
Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran ingin mengadakan pembicaraan, namun Amerika Serikat “tidak tertarik”. Ia memperingatkan bahwa AS akan segera melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di Pegunungan Zagros. Trump juga menyebut serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz sebagai tindakan yang “bodoh” dan menegaskan bahwa AS akan terus menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Di sisi lain, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran memperingatkan bahwa setiap tindakan provokatif akan mendapat respons segera. Iran juga menyatakan bahwa apabila serangan AS terus berlanjut, mereka akan menutup Selat Hormuz dan melarang seluruh kapal melintas.
Militer Amerika Serikat telah melancarkan serangan udara terhadap Iran selama beberapa malam berturut-turut, sementara Iran melakukan serangan balasan terhadap kepentingan AS di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut telah memengaruhi fasilitas energi di Kuwait dan meningkatkan ketegangan di kawasan. Trump juga menyatakan bahwa negara-negara sekutu AS di Timur Tengah seharusnya membayar “biaya perlindungan”, seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi bergantung pada minyak dari Timur Tengah.
Risiko pelayaran di Selat Hormuz terus meningkat sehingga volume lalu lintas kapal mengalami penurunan signifikan. Iran menyatakan kesiapan untuk mengekspor minyak ke seluruh negara kecuali Israel, serta berharap membangun kerja sama energi jangka panjang dengan India. Sementara itu, Uni Emirat Arab berencana membangun pelabuhan baru guna mengurangi ketergantungan terhadap jalur Selat Hormuz. Di sisi lain, ketidakpastian rantai pasok global semakin meningkat setelah perubahan kebijakan terhadap Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA), di mana AS memilih sistem evaluasi tahunan dibandingkan perpanjangan otomatis. Kebijakan tersebut diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap industri otomotif, pertanian, dan energi.
Rencana penerapan kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang bertepatan dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah menciptakan tekanan ganda terhadap rantai pasok global dan pasar energi. Insentif tarif aluminium ditujukan untuk mendorong investasi domestik, namun dalam jangka pendek belum mampu mengatasi kekurangan pasokan secara menyeluruh. Di sisi lain, tarif yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi serta mengubah dinamika perdagangan internasional.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga meningkatkan risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang dapat memperbesar volatilitas harga minyak. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan terus mendorong ekspektasi inflasi global dan meningkatkan ketidakpastian pasar.
Dalam jangka pendek, pergerakan pasar diperkirakan masih akan didominasi oleh premi risiko geopolitik serta ketidakpastian terkait kebijakan tarif. Sementara itu, dalam jangka menengah hingga panjang, stabilisasi ekonomi global sangat bergantung pada tercapainya kembali dialog antara AS dan Iran, pulihnya kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, serta kejelasan arah kebijakan rantai pasok di Amerika Utara. Hingga saat ini, kombinasi perubahan kebijakan perdagangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik masih menjadi tantangan utama bagi ketahanan rantai pasok global serta manajemen risiko para investor.
Peringatan Risiko:
Pandangan, analisis, penelitian, harga, maupun informasi lain yang disampaikan di atas hanya bertujuan sebagai komentar umum mengenai kondisi pasar dan tidak mencerminkan posisi resmi platform ini. Seluruh pengguna bertanggung jawab penuh atas keputusan investasinya masing-masing. Harap bertransaksi dengan bijaksana dan memperhatikan risiko yang ada.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.

