简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Amerika Serikat Melancarkan Operasi Militer, Risiko Geopolitik Meningkat Tajam
Ikhtisar:【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】Pada dini hari 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan dengan sandi “Operation Epic Fury.” Sejumlah rudal presis

【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】
Pada dini hari 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan dengan sandi “Operation Epic Fury.” Sejumlah rudal presisi dilaporkan menghantam kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran di pusat kota Teheran.
Berdasarkan citra satelit serta konfirmasi media resmi Iran, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas saat sedang menjalankan tugas kenegaraan di kantor resminya. Serangan ini dinilai sebagai salah satu operasi “decapitation strike” terbesar dalam sejarah perang modern. Turut menjadi korban adalah Menteri Pertahanan Iran, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, serta Komandan Garda Revolusi Iran.
Presiden Donald Trump kemudian menyatakan:
“Kami yakin Khamenei telah tewas. Ini adalah kesempatan bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.”
Sebagai respons langsung atas serangan tersebut, Garda Revolusi Iran pada malam 28 Februari mengumumkan pelarangan seluruh kapal melintasi Selat Hormuz.
Jalur strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah global tersebut secara de facto kini terhenti. Data pelayaran real-time menunjukkan kapal tanker di pintu keluar Teluk Persia menghentikan kecepatan hingga nol, sementara beberapa supertanker berbalik arah di mulut selat.
Walaupun pihak AS menyatakan selat tersebut “tetap terbuka,” perusahaan asuransi global telah menarik perlindungan polis darurat, menyebabkan lonjakan tajam biaya pengiriman dan premi risiko.
Analis memperkirakan, jika blokade berlanjut, harga minyak berpotensi menembus USD120 per barel dan mendorong inflasi global naik sekitar 0,7%.
Seiring pengerahan kapal induk terbesar AS, USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln, ke kawasan Timur Tengah, sejumlah negara termasuk AS, Tiongkok, India, dan Kanada telah mengeluarkan perintah evakuasi darurat.
Amerika Serikat: Memerintahkan keluarga diplomat dan personel non-esensial segera meninggalkan Israel serta memperingatkan warga negara untuk “segera pergi hari ini juga.”
Tiongkok: Mengeluarkan peringatan darurat agar warga tidak bepergian ke Iran dan meminta warga yang berada di sana untuk segera dievakuasi.
Situasi Regional: Ledakan dilaporkan terdengar di Teheran, Qom, dan Isfahan. Israel menetapkan status darurat nasional, memindahkan fasilitas rumah sakit ke bawah tanah, serta memperingatkan potensi serangan balasan rudal dan drone.
Ringkasan Analisis Penulis:
Energy Risk Premium: Harga minyak dan saham sektor tanker (seperti DHT Holdings dan Frontline) berpotensi mengalami volatilitas ekstrem akibat gangguan di Selat Hormuz.
Aset Safe Haven: Emas dan perak menunjukkan lonjakan signifikan pasca eskalasi konflik, menjadi tujuan utama aliran dana defensif.
Inflasi dan Suku Bunga: Kenaikan harga energi berisiko menghapus tren penurunan inflasi sebelumnya dan mendorong bank sentral, khususnya The Fed, menunda pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
【Gambar 2: Indeks Ketakutan VIX Sumber: MacroMicro (M平方)】
【Gambar 3: Grafik Analisis Emas Timeframe H1】Analisis Candlestick:
Analisis MACD:
Rekomendasi Penulis:
Pernyataan Risiko:

Seiring meningkatnya ketegangan antar kedua negara, karakteristik emas sebagai aset lindung nilai sepenuhnya terefleksikan. Harga melonjak tajam menembus level 5300 dan mempercepat kenaikan setelahnya, sempat menyentuh area resistensi 5400 dalam perdagangan intraday.
Namun, munculnya beberapa candlestick koreksi di area atas mengindikasikan melemahnya momentum beli. Harga kini memasuki fase konsolidasi setelah reli agresif.

Level 5400 menjadi area resistensi utama dan belum berhasil ditembus secara meyakinkan.
Level 5300 kini berubah menjadi support jangka pendek yang krusial. Jika level ini ditembus, potensi koreksi menuju 5200 meningkat.
Rentang pergerakan jangka pendek bergeser ke kisaran 5300–5400.
Histogram MACD melebar tajam dan menjauh dari garis nol, menunjukkan penguatan momentum bullish yang signifikan. Namun, indikator juga telah memasuki zona overbought, sehingga perlu mewaspadai risiko koreksi teknikal akibat kondisi overheat.
Dalam jangka pendek, tidak disarankan mengejar harga di level tinggi.
Jika harga melakukan pullback dan bertahan di atas 5300, posisi long dapat dipertimbangkan.
Apabila level 5400 gagal ditembus, waspadai potensi konsolidasi dan koreksi di area atas.
Resistensi 1: 5400
Support 1: 5300
Support 2: 5200
Pandangan, analisis, riset, harga, maupun data lainnya yang disampaikan di atas hanya bersifat komentar pasar umum dan tidak mewakili posisi resmi platform ini. Setiap pembaca bertanggung jawab penuh atas risiko investasinya masing-masing. Harap bertransaksi dengan bijak.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
